Penulis Identik dengan Kemiskinan

Penulis Identik dengan Kemiskinan?

Saya sebenarnya mau jadi penulis, tapi orang-orang mengatakan menulis tak bisa bikin kaya. Penulis identik dengan kemiskinan. Benarkah demikian?

Pengirim: Joko (25 tahun, Jakarta)

Halo Joko,

Ada salah satu hukum alam yang tak terbantahkan dan sudah terlalu sering terbukti, yaitu:

Apa yang Anda fokuskan akan tumbuh dan berkembang.

Katakanlah Joko punya hobi memotret. Lalu Anda menggeluti hobi ini secara serius. Anda rajin memotret, lalu terus belajar untuk meningkatkan kemampuan. Bila ada pelatihan fotografi, Anda menyempatkan diri untuk ikut. Bila ada komunitas fotografer, Anda dengan senang hati bergabung dan aktif di sana.

Anda juga membuat sebuah blog yang berisi kumpulan foto-foto hasil jepretan Anda, juga tulisan-tulisan tentang kiat dan panduan jitu dalam memotret.

Bila menekuni hal-hal seperti ini secara serius, fokus dan konsisten, maka secara perlahan namun pasti, Joko akan mulai dikenal oleh banyak orang sebagai seorang fotografer hebat. Bila sudah mendapat julukan seperti itu, maka “menjadikan hobi menjadi sumber uang” sangatlah mudah. Popularitas, kompetensi dan kredibilitas Anda sebagai seorang fotografer (yang diberikan oleh masyarakat kepada Anda tanpa pernah Anda minta), merupakan modal yang sangat besar untuk menggeluti segala macam bisnis di bidang pemotretan.

Hal seperti ini pulalah yang – alhamdulillah – saya alami di dunia penulisan. Sejak tahun 1990 saya fokus dan konsisten di bidang penulisan. Saya terus menulis tanpa henti, dan terus belajar untuk meningkatkan kemampuan. Dan tanpa saya sadari, banyak orang yang akhirnya menyebut saya sebagai penulis sukses, penulis terkenal, guru menulis, dan entah apa lagi.

Saya sendiri tak pernah membayangkan bila mendapat julukan-julukan seperti itu. Tapi saya menyadari bahwa ketika predikat seperti itu sudah melekat pada diri saya, maka itu adalah modal yang sangat penting ketika saya memulai sejumlah bisnis di bidang penulisan. Dan alhamdulillah, saya berhasil.

* * *

Fakta di atas merupakan jawaban yang sangat pasti untuk pertanyaan Joko. Saya bilang, “Tidak! Penulis tidak identik dengan kemiskinan”.

Yang identik dengan kemiskinan adalah ketidakyakinan kita sendiri bahwa kita bisa kaya dari menulis.

Saya bukan sekadar membual, tapi bukti nyata sudah terlalu banyak. Saya tak perlu menyebutkan nama-nama penulis best seller seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy atau Raditya Dika. Sebab tidak semua penulis bisa “seberuntung” mereka. Jumlah penulis yang bernasib seperti mereka masih bisa dihitung dengan jari.

Karena itu, saya akan menyebutkan beberapa nama saja. Mereka adalah penulis yang biasa-biasa saja, tidak terlalu dikenal, bahkan ada yang hanya dikenal oleh sekelompok komunitas tertentu. Mereka adalah:

Rini Nurul Badariah

Dodi Mawardi

Ariyanto MB

Asa Mulchias

Zaenal Radar T

Satriya Nugraha

dan masih banyak nama lainnya.

Mereka semua adalah full time writers. Mereka bisa hidup berkecukupan dari segi materi, hanya dari kegiatan menulis. Mereka adalah bukti-bukti yang sangat nyata dan berhasil membantah mitos “penulis identik dengan kemiskinan”.

Bagaimana caranya agar bisa seperti mereka?

Pertama:

Sama seperti yang saya sebutkan di atas, rahasianya adalah fokus dan konsisten dalam menekuni dunia penulisan. Joko harus total dalam menulis. Kalau melakukan sesuatu secara total, maka Anda akan mendapat hasil yang total pula. Sementara bila melakukan sesuatu secara sambil lalu, maka hasilnya pun sambil lalu pula.

Ini adalah hukum alam yang tak terbantahkan dan sudah terlalu sering terbukti.

Sebagai referensi, coba Joko baca tulisan saya yang satu ini, tentang kisah hidup saya yang sejak dulu konsisten dan tetap fokus dalam menulis. Klik di sini.

Kedua:

Kenali, dekati dan akrabi sumber rezeki yang berkaitan dengan dunia penulisan. Sebab salah satu cara untuk mendapatkan uang adalah dengan mendekati sumber uang tersebut

Katakanlah Joko ingin kaya lewat buku-buku Joko yang diterbitkan. Maka cobalah Joko bergaul akrab dengan para penerbit. Jalin hubungan silaturahmi yang erat dengan mereka.

Ingat:

Pengalaman membuktikan bahwa sebagian besar rezeki datang dari silaturahmi.

Jadi bila Joko rajin bersilaturahmi dengan penerbit, maka insya Allah Joko akan banyak pula mendapat penghasilan dari penerbit. Bila Joko rajin bersilaturahmi dengan para pejabat, maka Joko akan bisa mendapaat banyak penghasilan dari mereka. Misalnya, ada pejabat yang meminta tolong pada Joko untuk menulis buku biografi mereka. Bukan karena menurut mereka Joko adalah penulis yang paling hebat, tapi karena Joko adalah satu-satunya penulis yang paling mereka kenal.

Ingat lgi:

Sebagian besar orang lebih suka menggunakan jasa dari penulis yang sudah mereka kenal ketimbang penulis yang hasil karyanya paling berkualtias.

Karena itulah, silaturahmi sangat penting!

Membaca penjelasan di atas, Joko (atau teman-teman lain) mungkin berpikir:

“Saya kan tidak pintar bergaul. Bagaimana mungkin bisa menjalin silaturahmi dengan banyak orang?”

Hehehe… begini ya:

Sejujurnya, saya pun termasuk orang yang kurang pintar bergaul. Seperti yang saya jelaskan di sini dan di sini, saya aslinya sangat minderan. Tapi saya mencoba menyiasati rasa minder tersebut – antara lain – dengan rajin menulis di internet. Dari kegiatan ini, alhamdulillah akhirnya banyak orang yang mengenal saya, termasuk para tokoh penting, selebriti, dan sebagainya.

Akhirnya, terjadilah sesuatu yang benar-benar di luar dugaan: Saya tak perlu repot-repot lagi mengajak mereka kenalan (karena rasa minder saya menjadi penghalang yang cukup besar), tapi banyak di antara mereka yang dengan inisiatif sendiri “mendatangi” saya. Alhamdulillah

Bila Joko termasuk orang yang kurang pintar bergaul, jangan “putus asa” oleh kiat nomor 2 ini. Silaturahmi bisa dijalankan dengan banyak cara. Dan karena sekarang era internet, coba manfaatkan internet untuk menjalin silaturahmi dengan sebanyak mungkin orang.

Pengalaman saya membuktikan bahwa internet sangat efektif sebagai sarana pergaulan orang-orang minder

Ketiga:

Tingkatkan profesionalisme dan kualitas diri.  Joko bisa terus belajar meningkatkan kemampuan menulis. Sebab bila kualitas tulisan kita semakin baik, maka pembaca (atau orang yang memesan/membeli tulisan kita) akan semakin puas. Sehingga tingkat kepercayaan mereka terhadap kita pun semakin tinggi.

Untuk meningkatkan keahlian menulis, saya sarankan Joko untuk bergabung dengan Sekolah-Menulis Online.

Jangan lupa pula, tingkatkan profesionalisme. Sebab kualitas tulisan yang bagus tidak akan ada artinya bila kita sendiri tak dapat dipercaya, tidak disiplin dalam bekerja, dan seterusnya. Jadilah seorang penulis yang bekerja dengan jujur, pintar menjaga kepercayaan orang lain, pintar menjalin hubungan baik dengan siapa saja. Semakin baik akhlak kita, maka insya Allah kepercayaan publik terhadap kita pun semakin meningkat.

Bila kepercayaan publik semakin meningkat, itu artinya pintu rezeki kita pun Insya Allah semakin terbuka lebar.

Keempat:

Cari terus peluang-peluang baru. Joko mungkin belum tahu bahwa banyak pensiunan atau orang kaya yang sudah terlalu mapan hidupnya dan butuh eksistensi diri. Untuk itu, mereka ingin menulis, tapi tak tahu caranya. Ini adalah salah satu contoh peluang yang bisa diraih oleh para penulis.

Bagaimana cara mengetahui peluang-peluang seperti ini? Tentu saja dengan banyak bergaul, khususnya dengan para penulis lain, komunitas penulis, penerbit, dan seterusnya. Semakin banyak bergaul, maka insya Allah semakin banyak info dan peluang seperti itu yang bisa Joko dapatkan.

Kelima:

Rajin memberi.

Salah satu hukum alam yang tak terbantahkan adalah:

Orang yang senang memberi lebih disukai ketimbang orang yang senang meminta. Bila kita rajin memberi, maka kita akan mendapatkan lebih dari yang kita beri. Sementara bila rajin meminta, kita hanya akan mendapatkan sesuai yang kita minta, atau bahkan sering tidak mendapat apapun!

Orang yang senang memberi akan disukai dan dicintai oleh banyak orang.

Nah, agar Joko pun disukai dan dicintai oleh semua orang, cobalah rajin memberi. Tapi konteks “memberi” di sini tidak harus berupa uang/materi. Bila Joko punya keahlian atau pengetahuan di bidang tertentu, coba bagikan itu lewat tulisan. Buatlah blog dan isi dengan info, kiat serta panduan seputar hal-hal yang Joko sukai dan kuasai tersebut.

Maka lihatlah hasilnya: Secara perlahan namun pasti, banyak orang yang akan menyukai tulisan-tulisan Joko. Anda akan makin dikenal, banyak orang yang ngefans pada Anda, dan seterusnya.

Bila kondisinya sudah demikian, maka itu adalah salah satu modal besar untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai sumber uang.

Alhamdulillah, saya sudah membuktikannya. Awalnya, saya berbagi lewat tulisan hanya karena hobi. Saya orangnya memang senang berbagi. Tapi tanpa saya sadari, dari sanalah nama saya mulai dikenal, dan akhirnya banyak orang yang menyebut saya penulis terkenal.

Dari sana pulalah, saya alhamdulilah akhirnya berhasil mendapat penghasilan utama dari dunia penulisan.

* * *

Bila Joko bisa menerapkan kelima kiat di atas, maka percayalah! Insya Allah Joko bisa kaya dari menulis. Joko bisa hidup berkecukupan hanya dari kegiatan menulis.

Adapun penulis miskin adalah penulis yang pikirannya terlalu lugu; mengira bahwa rezeki penulis itu hanya dari honor tulisan yang dimuat di media cetak atau royalti penerbitan buku.

Kalau buku kita bisa best seller seperti Laskar Pelangi atau Ayat Ayat Cinta, tentu kita bisa kaya hanya dari menulis buku. Tapi kalau tidak? Sejujurnya saya katakan bahwa SECARA UMUM honor tulisan di media cetak dan royalti penulis buku itu tidaklah cukup untuk membuat seorang penulis jadi kaya

Mari luaskan wawasan dan pengetahuan kita, dan terapkan lima kiat di atas. Insya Allah sukses luar biasa akan bisa kita dapatkan dari dunia penulisan.

Demikian penjelasan saya. Semoga bermanfaat dan salam sukses!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *